KABUT ASAP MENUNDA PENERBANGAN JAKARTA-PALANGKA RAYA

AMAN Kal-Teng Menolak MASYARAKAT  ADAT dituduh menyebabkan Kabut Asap.

Jakarta (7/10). Penerbangan, Sapto (47), dan ratusan penumpang Maskapai Lion Air Jakarta-Palangka Raya tertunda. Jadwal take off (tinggal landas) Pk.11.40 WIB, namun baru berangkat Pk.14.55 WIB.

“Penumpang yang terhormat, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan anda menunggu jadwal penerbangan kami, dikarenakan kabut asap di bandara Cilik Riwut, dengan jarak pandang hanya sepuluh meter”. Kata seorang Pramugari kepada para penumpang. Pesawat mendarat di airport Cilik Riwut Pk.16.35 WIB.

Kabut asap melanda Kalimantan Tengah sejak akhir Agustus lalu. “Jarak pandang hanya 50 meter saja bang, dari jam lima sampai delapan pagi”. kata Titan (Staff Aliansi Masyarakat Adat Nusantara/AMAN Kalteng), saat bersama tim SatGas REDD+ menuju Sampit minggu malam (7/10), untuk melatih Wartawan Warga.

Jadwal penerbangan maskapai menuju dan dari Palangka Raya dialihkan dari pagi hari ke antara Pk 13.00 WIB sampai pk.18.00 WIB.

“Saya booking tiket yang ke Palangka Raya beberapa hari lalu memang jadwal penerbangan dialihkan ke sore hari pak Alim”. kata Jatu Arum Sari (Tim SatgGas REDD+) salah satu penumpang maskapai Garuda, yang melaksanakan penguatan lembaga program REDD+ di Kalimantan Tengah.

 

Menemukan Dua Titik Kebakaran Lahan.

Foto by : Alim Pk.21.29 WIB (7/10)

Dalam perjalanan tim dari Palangka Raya menuju Sampit, Kab. Kotim, Pk.19.45 WIB, ada titik api dengan ketinggian sekitar 50 meter membakar lahan berhutan di Kec. Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya. Pk.21.29 WIB. Tim kembali menjumpai titik api lebih besar dari titik api yang pertama, di Pelataran Kabupaten Waringin Timur.

Kabut asap menjadi ancaman serius bagi publik TAMBUN BUNGAI sejak 1997. Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Kalimantan Tengah, Simpun Sampurna mengatakan, pembakaran lahan berhutan di Kal-Teng berawal dari pembukaan lahan gambut sejuta hektar atau Proyek Lahan Gambut (PLG) untuk lahan pertanian oleh pemerintah.

“Pembukaan dan pembakaran lahan sejuta hektar itu untuk transmigrasi luar Kalimantan Tengah dan masyarakat lokal, 1997 itu Lim” Kata Simpun Sampurna, di Hotel IDOLA Sampit, lokasi pelatihan Jurnalis Warga, Pk.11.37 WIB  (9/10/12).

Proyek PLG terletak di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Barito Selatan & Kota Madya Palangka Raya.

“Karena pembukaan kanal PLG itu, membuat akses orang semakin terbuka dan tidak dikendalikan lagi, sehingga sampai sekarang pihak perusahaan, petani yang berasal dari luar Kal-Teng dan lokal, yang mendiami daerah-daerah itu bisa mengakses kembali tempat-tempat yang sudah terbuka dan membuka lahan baru, dengan cara yang tidak tradisional”. Tutur Simpun Sampurna.

Simpun Sampurna menambahkan “yang menjadi kesedihan kita, ladang gilir balik (ladang berpindah) Masyarakat Adat yang dikelola secara tradisional, sering dituduh menjadi penyebab kebakaran yang menimbulkan asap, padahal kita tau Masyarakat Adat mengelola hutan sebagai sumber kehidupan Masyarakat Adat. Dan sangat tidak mungkin mereka membakar lahan dengan percuma. Jika terjadi kebakaran Masyarakat Adat yang sangat dirugikan, terutama wilayah buruannya, tanaman obat-obatan seperti akar kuning, penawar seribu, dan banyak lagi yang lainnya”.

“Bukan hanya itu pak Alim”, kata Sarwepin (Ketua Pengurus Daerah AMAN Kab. Katingan/peserta pelatihan), “Tapi juga pohon gembor di hutan yang bernilai jual tinggi, untuk bahan pembuatan obat nyamuk, rotan-rotan, pohon madu (tanggiran/tempat lebah bersarang) yang bernilai tinggi di hutan juga ikut terbakar”.

“Nah inilah yang merugikan Masyarakat Adat, yang menyudutkan Masyarakat Adat, ketika hutan terbakar. Dan juga dampak untuk semua pihak, mengganggu penerbangan, penyakit manusia. Tidak rasional kalau Masyarakat Adat yang membakar hutan, dan kami petani asli daerah ini paham sejak ribuan tahun lalu bagaimana menjaga hutan. Dengan terjadinya kebakaran Masyarakat Adat yang paling dirugikan dan dapat memutus rantai perekonomian Masyarakat Adat yang bersumber dari alam”. Tutur Simpun Sampurna.

 

Penulis  : Alim