Arsip

Warga Ambalau Desak Pemerintah Atasi Kelangkaan Gas LPG 3 Kg dan BBM

Masyarakat Kecamatan Ambalau menggelar aksi protes menuntut pemerintah mengatasi kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram dan BBM jenis Pertalite. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

SINTANG, RUAI.TV – Masyarakat Kecamatan Ambalau menggelar aksi protes menuntut pemerintah dan pihak terkait segera mengatasi kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram dan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang terus berlarut-larut.

Aksi yang mengatasnamakan Aksi Masyarakat Peduli Kecamatan Ambalau itu berlangsung pada Kamis, 8 Januari 2026 di Kantor Camat Ambalau, sebagai bentuk kegelisahan warga atas kondisi yang dinilai semakin menekan kehidupan sehari-hari.

Dalam tuntutannya, warga mendesak pemerintah menjamin ketersediaan stok gas LPG 3 kg di seluruh wilayah Kecamatan Ambalau. Mereka meminta aparat berwenang menindak tegas oknum yang diduga bermain dalam distribusi sehingga harga gas melonjak jauh di atas harga eceran tertinggi.

Advertisement

Kelangkaan gas ini, menurut warga, telah memaksa banyak rumah tangga kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak.

“Kondisi ini jelas merupakan kemunduran bagi kesejahteraan masyarakat Ambalau. Di saat daerah lain menikmati kemudahan energi, kami justru di paksa kembali ke cara-cara lama karena gas subsidi tidak tersedia,” tegas Koordinator Lapangan aksi, Antonius Junas.

Gambar: Perwakilan Masyarakat Kecamatan Ambalau menyerahkan point tuntutan kepada pemerintah kecamatan untuk disampaikan kepada pihak terkait. (Foto/ruai.tv)

Selain gas LPG, warga juga menyoroti kelangkaan BBM jenis Pertalite yang dinilai sangat krusial bagi masyarakat Ambalau. Mereka mendesak pemerintah segera menormalisasi pasokan BBM karena transportasi air menjadi satu-satunya urat nadi mobilisasi warga.

Ketika BBM langka, aktivitas transportasi air lumpuh dan berdampak luas. Kelangkaan BBM tersebut menghambat arus balik pelajar yang harus kembali ke sekolah dan institusi pendidikan. Warga yang membutuhkan layanan kesehatan juga kesulitan berangkat maupun pulang dari tempat berobat.

Di sisi lain, biaya transportasi melonjak tajam dan memukul aktivitas ekonomi masyarakat yang sepenuhnya bergantung pada jasa transportasi air.

“BBM bukan sekadar kebutuhan biasa bagi kami. Tanpa Pertalite, perahu tidak jalan, ekonomi berhenti, anak-anak terlambat sekolah, dan warga kesulitan berobat,” kata Antonius.

Dalam poin tuntutan terakhir, massa aksi menuntut pemerintah menambah kuota stok LPG 3 kg dan BBM khusus bagi pemegang izin pangkalan resmi di Kecamatan Ambalau. Warga juga meminta kepastian bahwa distribusi benar-benar sampai dan beredar secara merata di seluruh wilayah kecamatan, bukan hanya tercatat di atas kertas.

Masyarakat Ambalau berharap pemerintah segera merespons tuntutan ini dengan langkah konkret. Mereka menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ketersediaan energi kembali normal dan kehidupan warga dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Advertisement