Arsip

Sekolah di Bengkayang Minta Evaluasi Menu MBG agar Lebih Disukai Siswa

Kepala SMP Negeri 1 Bengkayang bersama siswa memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis kepada wartawan. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

BENGKAYANG, RUAI.TV – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan di Kabupaten Bengkayang mulai mendapat perhatian dari pihak sekolah penerima manfaat.

Salah satunya datang dari SMP Negeri 1 Bengkayang yang mendorong adanya evaluasi menu secara berkala agar tujuan program pemenuhan gizi nasional benar-benar tercapai melalui makanan yang diminati dan dikonsumsi siswa.

Sekolah menilai implementasi MBG sejauh ini berjalan baik dari sisi administrasi dan distribusi. Petugas menyalurkan makanan tepat waktu dan sesuai jumlah siswa. Namun, pihak sekolah melihat perlunya peningkatan kualitas penyajian, terutama pada variasi menu dan cita rasa agar siswa lebih tertarik mengonsumsi seluruh porsi yang disediakan.

Advertisement

Kepala SMP Negeri 1 Bengkayang, Emeliana, menjelaskan bahwa sekolah tidak menilai aspek gizi secara teknis karena hal itu menjadi ranah ahli gizi. Namun, sekolah memantau respons siswa terhadap makanan yang disajikan di lapangan.

“Kami sangat mendukung program MBG ini karena niatnya baik untuk kesehatan dan fokus belajar siswa. Dari sisi penyaluran sudah bagus. Yang kami dorong adalah evaluasi menu agar rasanya lebih sesuai dengan selera anak-anak, sehingga tidak banyak yang tersisa,” kata Emeliana.

Menurutnya, masih ada sebagian siswa yang belum terbiasa dengan beberapa jenis menu, khususnya olahan sayur. Kondisi tersebut membuat tujuan pemberian makanan tidak maksimal karena tidak semua porsi dikonsumsi.

“Kalau makanannya disukai, anak-anak pasti habis. Itu penting supaya program ini betul-betul efektif dan tepat sasaran, serta tidak menimbulkan pemborosan,” ujarnya.

Sekolah juga mengharapkan adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan penyedia jasa MBG. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menghadirkan inovasi menu harian tanpa mengabaikan standar penyajian yang telah ditetapkan.

Suara serupa datang dari para siswa penerima manfaat. Daniel, salah satu siswa SMP Negeri 1 Bengkayang, mengaku senang dengan adanya program MBG karena membantu siswa yang tidak sempat sarapan di rumah.

“Programnya bagus, jadi kami bisa makan di sekolah. Tapi kadang ada menu yang rasanya kurang cocok di lidah kami, terutama sayur. Kalau menunya enak, kami pasti habis,” ujar Daniel.

Sementara itu, Masayu, siswi SMP Negeri 1 Bengkayang, berharap variasi menu bisa dibuat lebih beragam agar tidak membosankan.

“Saya senang dapat makan gratis, tapi akan lebih bagus kalau menunya lebih bervariasi dan rasanya lebih pas. Jadi teman-teman juga semangat makannya,” katanya.

Di sisi lain, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyalur MBG di SMP Negeri 1 Bengkayang mengakui masih menghadapi tantangan dalam hal minat siswa terhadap jenis makanan tertentu. Kepala SPPG Sebalo-1, Riani, menyebutkan bahwa banyak siswa kurang berminat pada menu sayuran dan beberapa olahan telur.

“Memang kami melihat masih banyak siswa yang kurang minat pada sayuran, termasuk beberapa olahan telur, sehingga ada yang tersisa dan terpaksa dibuang. Namun, menu seperti ayam, tempe, dan tahu sejauh ini cukup diminati oleh penerima manfaat,” jelas Riani.

Ia menegaskan bahwa pihak SPPG terbuka terhadap masukan dari sekolah untuk memperbaiki penyajian menu ke depan. Menurutnya, evaluasi rutin menjadi kunci agar program MBG berjalan seimbang antara standar penyediaan dan kebiasaan makan siswa.

Pihak sekolah berharap evaluasi berkala dari penyedia MBG dapat terus dilakukan. Dengan demikian, anggaran negara yang dialokasikan mampu memberi dampak nyata bagi kesehatan dan kebugaran generasi muda, sekaligus mendukung cita-cita pemerintah dalam mewujudkan generasi emas melalui sajian yang layak, menarik, dan seimbang.

Dari masukan pihak sekolah dan pelajar ini menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada distribusi, tetapi juga pada kemampuan program menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan karakter siswa di lapangan secara konstruktif dan berkelanjutan.

Advertisement