Arsip

Naik Dango Pontianak 2026, Ruang Masyarakat Adat Merawat Identitas Dayak

Tarian Panompok, satu diantara acara sakral dalam Adat Naik Dango oleh masyarakat Adat Dayak. (Foto/Dok.ruai.tv)
Advertisement

PONTIANAK, RUAI.TV – Masyarakat adat Dayak di Kota Pontianak kembali menegaskan eksistensinya melalui perhelatan Gawai Adat Dayak atau Ritual Naik Dango ke-3 Kota Pontianak yang akan digelar pada 17 hingga 26 April 2026.

Agenda budaya tahunan ini tidak sekadar menjadi pesta rakyat, tetapi juga ruang strategis bagi masyarakat adat untuk menjaga identitas, nilai spiritual, serta kearifan lokal Dayak di tengah laju modernisasi kota.

Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Barat bersama DAD Kota Pontianak menyiapkan Naik Dango tahun ini dengan konsep lebih terbuka dan partisipatif. Kegiatan di pusatkan di Rumah Radangk Pontianak dan melibatkan berbagai unsur masyarakat lintas etnis sebagai simbol kehidupan harmonis di ibu kota Kalbar.

Advertisement

Ketua Umum DAD Provinsi Kalimantan Barat, Cornelius Kimha, menegaskan bahwa Naik Dango bukan sekadar seremonial adat, melainkan medium pelestarian nilai-nilai Dayak yang lahir dari hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Gawai Adat Dayak Kota Pontianak yang ketiga ini mengangkat tema Ngampar Uma, Ngarak Padi: Menjaga Kearifan Leluhur Dalam Perubahan Zaman. Tema ini mencerminkan komitmen masyarakat Dayak untuk tetap berdiri di atas nilai adat meskipun zaman terus berubah,” kata Cornelius.

Ia menjelaskan, Naik Dango berangkat dari tradisi masyarakat Dayak yang mengekspresikan rasa syukur setelah musim panen. Di ruang urban seperti Pontianak, makna itu berkembang menjadi simbol perlawanan kultural agar identitas adat tidak tergerus modernitas.

“Melalui Naik Dango, masyarakat adat menunjukkan bahwa budaya Dayak bukan peninggalan masa lalu, tetapi hidup, berkembang, dan relevan dengan situasi hari ini,” ujarnya.

Cornelius menyebutkan, rangkaian kegiatan akan dimulai dengan upacara adat, di lanjutkan arak-arakan budaya lintas etnis, pembukaan resmi, serta pertunjukan seni Dayak yang berlangsung hingga penutupan pada 26 April 2026.

“Berbagai kegiatan seni dan budaya yang berkaitan dengan adat Dayak akan tampil selama Gawai. Kami mengajak masyarakat adat Dayak dan seluruh warga Pontianak untuk hadir dan ikut merawat warisan budaya ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, menilai Naik Dango menjadi ruang penting bagi masyarakat adat untuk memperkuat jati diri di tengah dinamika kota yang semakin majemuk.

“Naik Dango bukan hanya ritual, tetapi ruang kebersamaan. Adat dan budaya adalah identitas yang harus dijaga dan di banggakan. Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Pontianak, dari berbagai latar belakang, untuk hadir dan meramaikan pesta budaya ini,” ujar Yohanes.

Menurutnya, keberadaan masyarakat adat di wilayah perkotaan sering kali menghadapi tantangan, mulai dari perubahan pola hidup hingga minimnya ruang ekspresi budaya. Naik Dango hadir sebagai jawaban agar nilai-nilai leluhur tetap mengakar di generasi muda.

“Ketika anak-anak muda Dayak ikut menari, bernyanyi, dan memahami makna ritual, di situlah adat terus hidup. Naik Dango menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan,” tambahnya.

Selain memuat nilai spiritual, Naik Dango ke-3 Kota Pontianak juga menggerakkan sektor sosial dan ekonomi masyarakat. Panitia membuka ruang bagi UMKM lokal, pengrajin, serta pelaku seni Dayak untuk tampil dan berinteraksi langsung dengan pengunjung.

Ketua Panitia Pelaksana, Vandrektus Derek, mengatakan panitia menyusun agenda secara matang agar Naik Dango tidak hanya meriah, tetapi juga bermakna bagi masyarakat adat.

“Naik Dango merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus perayaan kebersamaan. Di sinilah nilai persatuan, saling menghormati, dan kekayaan budaya Nusantara bertemu,” kata Vandrektus.

Ia memaparkan, kegiatan dimulai pada 17 April 2026 dengan Adat Ngampar Bide pada pagi hari dan Misa Syukur pada sore hari. Pada 18 April, masyarakat adat melaksanakan Adat Ngalanjukatn sejak dini hari sebagai bagian dari ritual sakral.

Selanjutnya, pada 20 April, panitia menggelar Display Budaya yang melibatkan masyarakat Dayak dan seluruh etnis di Kota Pontianak. Arak-arakan budaya dimulai dari Rumah Betang Sutoyo dan berakhir di Rumah Radangk Pontianak.

Puncak pembukaan berlangsung pada 21 April 2026 melalui Tarian Panompok dari enam DAD kecamatan, pembukaan resmi, kesenian Jongan, serta penampilan artis Dayak. Berbagai lomba tradisional, pertunjukan seni, dan agenda budaya berlanjut hingga 24 April, termasuk program Introducing Top 15 ADG 5.

Acara ditutup pada 25 April malam dengan penampilan sanggar seni, lelang Mandau, hiburan musik, serta artis Dayak dari Kakondan Studio. Vandrektus menekankan bahwa keberhasilan Naik Dango sangat bergantung pada partisipasi masyarakat adat dan warga kota.

“Mari kita jadikan Naik Dango ke-3 Kota Pontianak sebagai ruang persaudaraan dan simbol hidup berdampingan dalam keberagaman. Ini bukan hanya milik masyarakat Dayak, tetapi milik seluruh warga Pontianak,” pungkasnya.

Melalui Naik Dango, masyarakat adat Dayak di Pontianak tidak hanya merayakan panen dan tradisi, tetapi juga menegaskan posisi budaya sebagai fondasi kehidupan sosial, identitas, dan persatuan di tengah kota yang terus tumbuh.

Advertisement