PONTIANAK, RUAI.TV – Umat Kristiani di berbagai penjuru dunia memperingati Jumat Agung dengan penuh khidmat pada Jumat (3/4). Perayaan ini menghadirkan momen refleksi mendalam atas sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Umat memaknai peristiwa ini sebagai tanda kasih terbesar bagi manusia.
Gereja Katolik menghadirkan Ibadat Jumat Agung dalam format yang berbeda dari misa harian. Gereja menyusun ibadat ini ke dalam empat prosesi utama yang sarat makna, yakni Pembukaan melalui Sujud Imam, Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, serta Komuni Suci. Rangkaian ini mengajak umat merenungkan penderitaan Kristus sekaligus memperkuat iman.
Prosesi pertama membuka ibadat dalam suasana hening tanpa nyanyian. Imam memasuki gereja dan langsung melakukan sujud di depan altar. Tindakan ini menyimbolkan duka mendalam atas sengsara dan wafat Yesus Kristus. Umat mengikuti suasana tersebut dengan sikap hening sebagai bentuk penghormatan dan permenungan.
Selanjutnya, Liturgi Sabda menjadi pusat permenungan. Imam bersama petugas liturgi membacakan Kitab Suci, termasuk kisah sengsara Yesus atau Passio. Bacaan Injil Yohanes (18:1 – 19:42) mengisahkan perjalanan penderitaan hingga penyaliban.
Petugas membawakan kisah ini secara dramatik sehingga umat dapat merasakan suasana batin yang mendalam. Umat menyimak setiap bagian dengan penuh perhatian dan menghayati pengorbanan Kristus yang rela menderita demi keselamatan manusia.
Setelah pembacaan, imam memimpin Doa Umat Meriah yang panjang. Doa ini mencakup berbagai intensi, mulai dari Gereja, pemimpin dunia, hingga seluruh umat manusia. Umat menyampaikan harapan dan permohonan dalam suasana hening dan penuh kesungguhan.
Prosesi ketiga menghadirkan Penghormatan Salib. Petugas liturgi membawa salib ke tengah gereja, lalu imam mengajak umat memberi penghormatan. Umat maju secara bergantian untuk mencium atau menundukkan kepala di hadapan salib.
Tindakan ini menjadi simbol penghormatan atas pengorbanan Yesus Kristus. Salib yang sebelumnya melambangkan penderitaan kini menjadi tanda kemenangan kasih dan sumber harapan.
Rangkaian ibadat berlanjut dengan Komuni Suci. Gereja tidak mengadakan konsekrasi pada Jumat Agung, namun umat tetap menerima Komuni Kudus. Imam membagikan hosti yang berasal dari misa Kamis Putih sehari sebelumnya.
Prosesi ini menjadi tanda persatuan umat dengan Kristus yang wafat, sekaligus menegaskan kehadiran-Nya dalam kehidupan umat. Sepanjang ibadat, suasana gereja tetap sederhana tanpa hiasan berlebihan. Umat merasakan keheningan tanpa iringan musik meriah. Kondisi ini membantu umat fokus pada permenungan atas makna pengorbanan Kristus.















Leave a Reply