Arsip

Ibadat Jumat Agung di Paroki Keluarga Kudus Pontianak Berlangsung Khidmat

Ibadat Jumat Agung di Paroki Keluarga Kudus Pontianak berlangsung Khidmat. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

PONTIANAK, RUAI.TV – Ribuan jemaat mengikuti Ibadat Jumat Agung di Gereja Paroki Keluarga Kudus, Keuskupan Agung Pontianak, pada Jumat 3 April 2026. Jemaat memenuhi seluruh area gereja, termasuk di tenda yang disediakan oleh panitia.

Meski berada di luar, jemaat tetap mengikuti Ibadat dengan khidmat melalui layar dan pengeras suara. Suasana hening begitu terasa, sebagai bentuk penghormatan dan perenungan atas makna pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib.

Ibadat Jumat Agung pertama berlangsung pukul 13.00 WIB, yang dipimpin Romo Paroki, Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM.

Advertisement

Saat Iring-iringan Imam memasuki gereja, suasana begitu hening tanpa nyanyian pembuka. Setibanya di depan Altar, Imam kemudian bertelungkup, atau yang dikenal dengan prosesi Sujud Imam. Tindakan ini sebagai wujud duka mendalam atas sengsara dan wafat Yesus Kristus, sekaligus mengajak umat untuk masuk dalam suasana refleksi.

Bacaan Liturgi Sabda diambil dari Injil Yohanes (18:1 – 19:42), tentang kisah sengsara Yesus Kristus atau Passio, yang menggambarkan perjalanan penderitaan hingga penyaliban. Seluruh umat diajak untuk masuk dalam suasana batin yang hening, untuk merenungkan dan menyadari pengorbanan Yesus Kristus yang rela menderita demi keselamatan manusia.

Dalam Homilinya, Romo Paroki Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM mengatakan. Sengsara, penderitaan dan kematian Yesus Kristus memberi makna baru atas sesuatu yang seringkali kita hindari, karena rasa takut atas penderitaan dan kekhawatiran atas kematian.

“Hari ini sebagai murid-murid Kristus, kita diingatkan akan suatu peristiwa sangat penting dalam iman kita, yaitu kisah sengsara Tuhan. Barang siapa tidak memikul Salib-Nya dan tidak mengikuti Aku setiap hari, tidak layak menjadi murid-Ku. Maka kita diajak untuk belajar mengubah cara berfikir kita. Tidak melihat sengsara, penyakit, penderitaan, perlakuan tidak adil dan tindakan yang sangat kejam terhadap diri kita sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, kita bisa menganggap semua itu sebagai cara untuk meraih keselamatan” katanya.

Lebih lanjut, Romo Puji menegaskan. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, penderitaan bukanlah sesuatu yang sia-sia.

“Kalau kita menanggungnya dengan tulus ikhlas, maka apa yang kita lakukan akan menghasilkan buah-buah Rohani, keselamatan dan damai Sejahtera bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita”. Tegasnya.

Puncak perayaan Jumat Agung, yaitu penghormatan salib. Umat secara bergantian mencium atau menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. Salib yang semula menjadi simbol penderitaan, berubah makna menjadi lambang kemenangan kasih dan pengharapan.

Ibadat Jumat Agung tetap menghadirkan Komuni Kudus meski tanpa perayaan Ekaristi. Komuni Kudus yang dibagikan kepada umat, merupakan hosti yang telah dikonsekrasi pada misa Kamis Putih sehari sebelumnya. Ini menjadi tanda persatuan umat dengan Kristus yang telah wafat, namun tetap hadir dalam kehidupan umat-Nya.

Ibadat Jumat Agung diakhiri tanpa berkat penutup dan tanda salib. Umat meninggalkan gereja dalam suasana hening, sebagai bentuk perenungan atas makna pengorbanan Yesus Kristus.

Ibadat kedua Jumat Agung di Gereja Paroki Keluarga Kudus, Keuskupan Agung Pontianak diadakan pada pukul 16.00 WIB. Dimana sebelumnya, juga telah dilaksanakan prosesi Jalan Salib pada pukul 07.00 WIB.

Di momen Jumat Agung ini, umat Katolik diajak untuk menghidupi nilai pengorbanan, kasih, pengampunan dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement