MELAWI, RUAI TV – Warga Kabupaten Melawi menjerit. Antrean bahan bakar minyak membludak selama tiga hari terakhir. Kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi area SPBU pusat Kota Nanga Pinoh sejak pagi hingga malam.
Barisan pengantre mengular sampai badan jalan demi setetes Pertalite yang menjadi nadi aktivitas harian. Kondisi tersebut memicu keresahan luas. Warga harus menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kepastian.
Situasi semakin mencekik saat harga Pertalite pada tingkat pengecer melonjak tajam. Harga yang semestinya terjangkau kini tembus Rp16 ribu hingga Rp30 ribu per liter. Lonjakan itu jelas menampar logika dan rasa keadilan masyarakat perhuluan.
Ketua DPRD Melawi, Hendegi Januardi Usfa Yursa, angkat suara keras. Ia mendesak Pertamina segera mengambil langkah sigap agar pasokan kembali lancar, terlebih jelang Hari Besar Keagamaan seperti Imlek dan Lebaran.
“Opsi penyaluran itu harus kita kaji lagi. Kita paham situasi sungai surut, tetapi jalur darat bisa kita lakukan,” tegas Hendegi yang akrab disapa Ogi, Sabtu (14/2/2026).
Ogi menilai alasan hambatan distribusi akibat kondisi sungai tidak boleh menjadi dalih berkepanjangan. Menurutnya, Pertamina memiliki skema alternatif distribusi yang harus segera dijalankan agar warga perhuluan tidak terus menjadi korban.
Ia juga menyoroti penertiban antrean pada SPBU. Menurut Ogi, pengawasan ketat perlu hadir agar penyaluran tepat sasaran dan tidak memicu praktik penimbunan maupun permainan oknum yang mencari untung saat rakyat kesulitan.
“Saat kebutuhan mendesak seperti ini, jangan pikirkan keuntungan semata. Gunakan hati nurani saat masyarakat memerlukan BBM untuk aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Ogi menegaskan DPRD Melawi tidak akan tinggal diam. Ia meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum ikut mengawal distribusi agar tidak terjadi penyimpangan. Skala prioritas harus berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada celah spekulasi.
“Ini menjadi perhatian kami sebagai perwakilan rakyat, pemerintah setempat maupun aparat penegak hukum. Skala prioritas untuk kepentingan rakyat harus kita utamakan,” tegasnya.
Kelangkaan BBM tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga mengancam roda ekonomi lokal. Pedagang, petani, hingga pelaku jasa transportasi merasakan dampak langsung. Tanpa BBM, aktivitas lumpuh dan biaya hidup melonjak.
Ogi berharap pasokan segera kembali normal agar masyarakat Melawi serta wilayah terdampak lain seperti Sintang, Sanggau, Sekadau, dan Kapuas Hulu dapat beraktivitas tanpa bayang-bayang kelangkaan.
“Saya meminta masyarakat jangan panik. Ini hanya terkendala distribusi, kebutuhan kuota minyak masih tercukupi. Namun Pertamina harus ambil langkah cepat dan terukur,” pungkasnya.
Jeritan warga Melawi kini menjadi tamparan keras bagi Pertamina. Rakyat perhuluan menuntut keadilan distribusi energi. Negara hadir bukan hanya pada pusat kota, tetapi juga pada wilayah yang selama ini kerap tersisih dari perhatian.















Leave a Reply