Arsip

35 Ribu Murid di Bengkayang Masih Menanti Program MBG

Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bengkayang. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

BENGKAYANG, RUAI.TV – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bengkayang terus berjalan, namun jangkauan manfaat belum merata. Hingga awal Februari 2026, program nasional penopang gizi pelajar itu baru menjangkau sebagian sekolah.

Fakta tersebut memunculkan catatan kritis, sebab ribuan murid lain masih menunggu hak asupan bergizi yang setara. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang mencatat, baru 145 sekolah yang menerima program MBG.

Total penerima manfaat mencapai 24.569 murid. Jumlah itu masih jauh dari keseluruhan sasaran. Kabupaten Bengkayang memiliki 605 sekolah dari jenjang TK, PAUD, SD, SMP, SLB, SMA, sampai SMK sederajat, dengan total 59.805 murid.

Advertisement

Artinya, sekitar 35.236 murid belum menikmati program MBG. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan potret ketimpangan akses gizi bagi pelajar, terutama wilayah pesisir, pedalaman, serta perbatasan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, Heru Pujiono, menegaskan bahwa keterbatasan jangkauan bukan akibat perbedaan perlakuan layanan, melainkan hambatan akses geografis yang kompleks.

“Wilayah Bengkayang punya karakter pesisir, pedalaman, sampai perbatasan negara. Akses transportasi belum semua lancar. Faktor itu yang membuat perlu tahapan agar MBG bisa menjangkau seluruh sekolah,” ujar Heru.

Menurut Heru, dukungan program MBG sangat bergantung pada keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari target awal 21 SPPG, baru 16 unit yang beroperasi. Unit tersebut tersebar pada 10 kecamatan, antara lain Bengkayang, Sungai Betung, serta Jagoi Babang. Masih ada tujuh kecamatan tanpa layanan SPPG.

Kondisi itu membuat distribusi makanan bergizi belum sanggup menjangkau seluruh wilayah. Padahal, tujuan utama MBG ialah memastikan setiap murid memperoleh asupan gizi setara agar tumbuh kembang serta konsentrasi belajar meningkat.

Heru menyampaikan, pihaknya menyiapkan strategi lanjutan agar jangkauan program makin luas. “Kami cadangkan 49 dapur khusus untuk wilayah sulit. Fokus utama mencakup Siding, Suti Semarang, Lembah Bawang, serta kawasan pesisir. Harapan kami, semua murid bisa terlayani secara bertahap,” katanya.

Selain menyasar murid sekolah, program MBG juga akan menyentuh ibu hamil serta anak balita, terutama wilayah terpencil. Integrasi tersebut bertujuan memastikan pemerataan gizi sejak usia dini, bukan hanya pada bangku sekolah.

Meski progres terus berjalan, fakta ribuan murid belum tersentuh MBG menjadi catungan penting. Pemerintah daerah perlu mempercepat penguatan akses, sarana layanan gizi, serta koordinasi lintas sektor.

Tanpa percepatan nyata, kesenjangan manfaat MBG akan terus muncul, sementara kebutuhan gizi pelajar Bengkayang tidak bisa menunggu terlalu lama.

Advertisement