PONTIANAK, RUAI.TV – Sekolah Tinggi Teologi Institut Keguruan Alkitab (STT IKAT), yang berpusat di Jakarta, memberikan penghargaan bergengsi berupa gelar Doktor Honoris Causa kepada Pendeta Dr. Daniel Alpius, Gembala Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Hebron Kota Baru Pontianak. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam pelayanan Injil dan pengabdian sosial kepada masyarakat selama lebih dari empat dekade.
Gelar Doktor kehormatan tersebut diberikan dalam rangka Dies Natalis ke-39 STT IKAT JAKARTA pada 12 Februari 2025. Pemberian penghargaan ini tidak hanya mencerminkan pencapaian akademik, tetapi juga menghargai kontribusi besar Pendeta Daniel Alpius terhadap gereja dan masyarakat melalui misi penginjilan yang dijalaninya dengan penuh ketulusan dan kesetiaan.

Proses Pemberian Penghargaan
Keputusan untuk memberikan penghargaan ini diambil setelah penelitian dan pengumpulan data yang teliti dari berbagai sumber. STT IKAT menganggap Pendeta Daniel Alpius layak menerima gelar Doktor atas Pengabdian Masyarakat berkat dedikasi dan pengabdian yang telah ia tunjukkan di bidang pelayanan Injil serta kontribusinya yang besar terhadap masyarakat. Lembaga-lembaga yang memberikan rekomendasi antara lain, Badan Pengurus Pusat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Badan Pengurus Wilayah I Kalbar GKII, Badan Pengurus Daerah Pontianak GKII, Yayasan Misi Penginjilan Pemuridan Papua (YMP3), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Wilayah Kalimantan Barat, dan Dewan Pimpinan Pusat Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAG-NAS), Persekutuan Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (PSTI-PTS-Swasta) Kalimantan Barat, Sekolah Tinggi Teologi Ekklesia, “Kartidaya Sahabat Indonesia” yang merupakan Lembaga Penerjemah Alkitab ke bahasa-bahasa lokal atau suku.
Pendeta Daniel Alpius bilang, perasaannya terkejut saat menerima tawaran untuk mendapatkan gelar Doktor tersebut.
Dalam kesempatan wawancara dengan tim ruai.tv, Pdt. Daniel Alpius bercerita bahwa awalnya tawaran tersebut datang setelah dirinya diundang untuk memberikan ceramah dan seminar di Manokwari (kerap dijuliki Kota Injil) Papua, yang mana dalam seminar tersebut hadir juga pejabat tinggi dari STT IKAT Jakarta. Meskipun merasa tidak layak dan sempat menolak, Pendeta Daniel akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut setelah berkonsultasi dengan keluarga, lembaga gereja, dan mendapatkan dukungan melalui delapan rekomendasi dari berbagai pihak.
“Pada awalnya, saya merasa tidak layak untuk menerima penghargaan ini. Namun setelah melalui proses panjang, saya akhirnya memutuskan untuk menerimanya dengan hati terbuka. Saya merasa bahwa ini adalah bentuk penghargaan yang diberikan dengan tulus, terlebih tanpa ada biaya yang dibayar ke pihak sekolah” ungkap Pendeta Daniel Alpius.
Setelah menyatakan siap menerima penghargaan tersebut, Pdt. Daniel Alpius mempersiapkan sejumlah syarat yang diminta pihak STT IKAT, satu diantaranya adalah KEKARYAAN. Pdt. Daniel Alpius membikin sebuah KEKARYAAN yang berjudul: Membangun Keharmonisan, Mencegah Radikalisme, Meredam Konflik Antar Etnis dan Menjangkau Jiwa-Jiwa Bagi Kristus di Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat.


Perjalanan Pelayanan yang Penuh Pengorbanan
Perjalanan pelayanan Pendeta Daniel Alpius dimulai sejak ia menyelesaikan pendidikan teologinya di Sekolah Teologi Kelansam, yang saat itu bernama Sekolah Teologi Atas. Setelah itu, Pdt. Daniel Alpius mulai melayani dengan membuka pos penginjilan pertama di Nanga Libau dan Kenibung Sepauk di Kabupaten Sintang. Pos penginjilan tersebut kini telah berkembang menjadi gereja mandiri yang terus melayani masyarakat.
“Awalnya dari pelayanan misi, nah waktu selesai STA itu saya diminta terus bekerja di MAF dengan gaji seratus ribu rupiah dan saya akan dikhususkan jadi pilot MAF tapi saya tolak, hati memang bukan disitu. Setelah itu saya bergerak melayani dan tuhan memberikan karunia, karunia misi namanya, buka pos penginjilan, di beberapa tempat itu. Kalau bicara gaji, meski gaji hanya lima ribu rupiah tapi hati saya melihat pelayanan kepada jiwa-jiwa yang Tuhan ingin dijangkau” kata ayah dua orang anak itu.
Mission Aviation Fellowship (MAF) adalah sebuah lembaga penginjilan internasional, bermarkas besar di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. LSM ini bergerak di bidang penerbangan untuk melayani masyarakat terpencil dan miskin yang hidup sukar di seluruh dunia, termasuk untuk memberitakan Injil, satu diantaranya lokasi pelayanan MAF di Kalimantan Barat.
Tidak hanya berhenti di situ, Pendeta Daniel kemudian dipanggil untuk melayani di Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, tepatnya di Teluk Induk sebuah kampung kecil pada tahun 1980-1981 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan setapak atau sekitar 15-20 menit jika menggunakan alat transportasi air speedboat bermesin 40 PK. Di sana, Pdt. Daniel Alpius melihat bahwa tidak ada gereja Kristen di kota Kecamatan Serawai tersebut dan berinisiatif memulai pembangunan gereja. Berkat kerja keras dan pertolongan Tuhan, gereja tersebut kini menjadi pusat kegiatan rohani atau Pengurus Daerah di Daerah Melawi Hulu, Kabupaten Sintang.
“Lalu waktu saya pelayanan di Teluk Induk itu, saya lihat di kota Kecamatan Serawai tidak ada gereja kristen lalu kami mulai dengan pos penginjilan gereja di situ dan sekarang menjadi pusat daerah (Pengurus Daerah GKII Melawi Hulu). Dulu nama camatnya Martin Luther, setelah berkenalan rupanya camatnya om saya, jadi kami memulai POS PI itu kalau turun ibadah dari Teluk Induk nginaplah di rumah pak camat,” kenang kakek 3 cucu itu.
Pelayanan Pendeta Daniel Alpius tidak terbatas di Kalimantan Barat saja, bulan Maret tahun 1982 diutus oleh GKII Kalbar ke Program Jawa 500 dan ditempatkan oleh GKII Wilayah Jawa Sumatera membuka Pos Penginjilan di Surabaya Jawa Timur, tepatnya Bulak Banteng, Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran Surabaya Timur selama 8 Tahun (Tahun 1982-1990) dan oleh pertolongan Tuhan berhasil menjadi Gereja Mandiri GKII Jemaat Kalvary Surabaya.
“Kami membuka pos penginjilan dari nol di Bulak Banteng itu, Kami mengontrak sebuah rumah untuk tempat ibadah. Dua tahun setelah pembukaan, Pos PI Bulak Banteng berhasil membeli tanah dan membangun gedung gereja. Berkat anugerah Tuhan, gereja tersebut selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 1990, serta diberi nama GKII Jemaat Kalvari Surabaya.” ujar pria kelahiran 10 Juni 1956 itu.
Setelah delapan tahun gereja berdiri di Surabaya Pdt. Daniel Alpius diminta melanjut kan sekolah Teologi S1 lagi di Unggaran selama empat tahun, yaitu di Sekolah Tinggi Teologi Simson. Dan setelahnya melayani menjadi gembala di GKII Tanjung Periok Jakarta selama 5 tahun.
Pendeta Daniel Alpius yang kemudian diminta kembali ke Kalimantan Barat dan sebagai Gembala Sidang di GKII Ekklesia. Selama empat tahun melayani di sana, pria asal Kecamatan Belitang Hulu itu merasa perlu untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya di bidang teologi. Maka, Pdt. Daniel melanjutkan studi dan meraih gelar Magister Teologi (S2) di Institut Filsafat Teologi Jaffray Jakarta, sementara istrinya, Pdt. Selina Lewis, mengambil program S1.
“Saya bilang istri kita harus turun mesin lagi, harus kuliah lagi meningkatkan diri, mungkin saja ada yang beranggapan saya tidak mau lagi di penginjilan, pasti mau disekolahlah (guru, dosena,) karena waktu itu, 21 tahun yang lalu Magister Theologi itu masih langka, tapi karena saya punya hati misi penginjilan saya mulai POS lagi di Kota Baru Pontianak, mulainya 8 februari 2004 (GKII Hebron Kota Baru) ya waktu itu diawali 25 oranglah,” tambah Pdt. Daniel Alpius
Gereja yang dimulai dengan 25 orang kini telah berkembang menjadi sekitar 600 jemaat lebih yang setia, dan gereja ini melakukan ibadah sebanyak 3 kali setiap hari minggu mengingat kapasitas gereja yang mulai terbatas. Keberhasilan ini, menurut Pendeta Daniel, adalah buah dari kerja keras, iman yang teguh, dan kemurahan Tuhan yang selalu menyediakan jalan meskipun menghadapi tantangan besar.

Perjuangan Membangun Gereja
Salah satu momen yang tidak terlupakan dalam perjalanan pelayanan Pendeta Daniel Alpius adalah perjuangan bersama jemaat dalam membangun atau membeli gedung gereja untuk GKII Jemaat Hebron. Walaupun pada awalnya mereka tidak memiliki dana yang cukup, Tuhan menggerakkan seorang dermawan untuk membayar 1,5 milyar rupiah untuk membeli gedung gereja 4 rumah toko (ruko) yang kini digunakan untuk ibadah.
“Setelah berdoa sambil bekerja, bergumul cukup lama, bahkan kami sudah diberi batas waktu jika belum bisa bayar, wajar namanya juga jual beli harus ada batas waktu, nah disitulah Tuhan bekerja, tiba-tiba ada orang yang Tuhan gerakan membayar 1,5 milyar rupiah, dia sendiri yang membayar ruko itu dan itu yang kita pakai sekarang menjadi gereja,” kenang Pdt. Dr. Daniel Alpius, M.Th
Menurut Pdt. Daniel Alpius, anak Tuhan yang berlatar belakang tidak percaya Yesus itu justru membayar harga ruko itu dari uang tabungan keluarga untuk membangun rumah pribadi (rumah keluarga), namun orang tersebut memilih memprioritaskan pekerjaan Tuhan meski menunda pembangunan rumah pribadinya, bahkan keluarga tersebut justru ditimpa musibah kebakaran lagi setelah itu.
Pdt. Daniel Alpius melanjutkan, jika sampai saat ini keluarga tersebut diberkati dengan limpahnya baik secara ekonomi terlebih secara rohani oleh Tuhan Yesus yang merupakan pokok kebenaran dan keselamatan kekal.
Pdt. Daniel Alpius menambahkan, saat ini, bangunan fisik gereja tersebut telah berusia 25 tahun dan jemaat sedang merencanakan pembangunan gedung baru untuk memenuhi kebutuhan ibadah yang semakin berkembang.
“Meski banyak tantangan, kita akan bongkar semua dan kita akan bangun kembali dengan iman, Tuhan selalu membuka jalan bagi kita. Kami kini tengah merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru karena gedung yang ada sudah tidak memadai,” kata Pendeta Daniel.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAG-NAS) Pdt. Japarlin Marbun, M.Pdk turut mengakui dedikasi Pdt. Daniel Alpius dalam pelayanan.
“Satu diantara Ketua BAMAGNAS Provinsi yang cukup maju dan berkembang adalah Provinsi Kalimantan Barat ini, dalam hal ini pak Daniel yang telah menunjukan kiprahnya dalam BAMAGNAS provinsi, dimana sudah berkembang sampai ke kabupaten dan kota yang luar biasa, ini tentu turut membuat beliau sangat layak mendapatkan penghargaan. Dedikasi luar biasa untuk organisasi BAMAGNAS maupun untuk gereja yang ia layani sehingga sangat wajar beliau dapat penghargaan seperti yang kita lihat sekarang ini. Maka saya sebagai Ketua BAMAG Nasional telah mendukung sepenuh dan setulus hati secara pribadi dan organisasi untuk pemberian penghargaan itu,” kata Japarlin Marbun.
Ke depan, Japarlin Marbun berharap pelayanan Pdt. Daniel Alpius semakin maju bersama generasi muda untuk membangun masyarakat Kalimantan Barat agar kehadiran gereja dirasakan oleh masyarakat, bukan saja pelayanan rohani tetapi juga pelayanan kemasyarakat, mengingat sekarang ini dunia sangat tidak stabil sehingga masyarakat perlu didudukung dan disemangati supaya merkeka bukan saja rohaninya kuat, tapi ekonominya juga kuat, emosinya kuat dan lain sebagainya.
“Dibutuhkan masyarakat rohani yang semakin kuat, solid sehingga mereka bisa atasi tantangan dan menang atas tantangan-tantang itu, itulah yang kami harapkan dan kami kerjakan juga dalam BAMAGNAS tentu belum menyeluruh tapi sudah dan harus kita mulai terutama bidang SDM dan UMKM, sehingga pelayanan rohani dan kemasyarakat berjalan seiring, sehingga masyarakat kita betul-betul bisa maju dan berkembang karena turut andil kelola kekayaan bangsa ini sehingga sesuai dengan harapan Tuhan bahwa kita menjadi berkat bagi orang-orang sekitar kita,” pinta Pdt. Japarlin Marbun.
Kehidupan Pribadi dan Kontribusi Lintas Organisasi
Pdt. Daniel Alpius, M. Th. saat ini juga merupakan Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAGNAS) Provinsi Kalimantan Barat dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan lintas agama dan budaya. Selain itu, Pdt. Daniel Alpius yang juga sebagai Gembala Sidang GKII Hebron Pontianak, senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan tokoh agama, tokoh adat, serta tokoh politik di Kalimantan Barat. Ia juga berperan dalam memperjuangkan dan menjaga kerukunan antarumat beragama. Pdt. Daniel Alpius mengungkapkan bahwa kita harus cerdas secara rohani dalam memandang dinamika politik baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Ketika berbicara tentang politik, kita berupaya memilih pemimpin-pemimpin terbaik, baik di tingkat daerah maupun nasional, yang terbaik di antara yang baik. Kita tidak sedang mencari atau memilih pemimpin agama atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, doa yang sungguh-sungguh dan berulang menjadi sangat penting agar mata rohani dan jasmani kita terarah dengan baik, sehingga semua keputusan dapat menjadi objektif dan subjektif sesuai dengan kehendak Tuhan. Setelah itu, barulah kita dapat berbicara tentang sikap dan pembelaan diri jika ada pihak yang tidak setuju dengan sikap politik kita sebagai pemimpin atau gembala jemaat,” tutupnya.

Pdt. Dr. Daniel Alpius, M.Th memiliki seorang istri, yaitu Pdt. Selina Lewis, S.Th., M.Th., dan dua anak yang semuanya sudah berkeluarga. Anak sulung bernama Abraham Sumitro, S. Th. dengan istrinya bernama Imelda Rosita, S. Hut yang dikaruniakan Tuhan dua orang anak bernama Gladys Samantha Desabel (Semester IV Kuliah di STFT Jaffray Makasar) dan Jane Calista Kristabel (SMP 2 Imanuel Pontianak). Sedangkan anak bungsu Pdt. Daniel Alpius dan Ibu Pdt. Selina Lewis bernama Dwi Marthina, SE dengan suaminya bernama Hariyanto, S. Pd yang dikaruniakan Tuhan seorang anak bernama Keyla Alfaresta Rianty, (SMP 3 Immanuel Pontianak).
Kehidupan Pdt. Daniel Alpius sekeluarga adalah satu diantara contoh nyata dari kesetiaan, pengorbanan, dan iman yang teguh dalam menjalankan tugas panggilan sebagai hamba Tuhan. Itulah Tuhan, Dia akan mengurapi dan memberi berkat kepada yang dikenankan-Nya dan setia memberkati semua orang.
Masih banyak cerita pelayanan dan kiprah Pdt. Daniel Alpius di masyarakat yang perlu diketahui, karena itu kami akan menyajikan episode khusus hadir langsung di studio RuaiTv dalam acara Podcast Rumah Kita bersama Gembala GKII Jemaat Hebron Kota Baru Pontianak tersebut, karena itu jangan lupa saksikan kisah inspiratifnya ya! RED
Leave a Reply