LARANTUKA, RUAI.TV — Menanggalkan sejenak kesibukan diplomatiknya di jantung Vatikan, Pater Markus Solo Kewuta SVD memilih pulang ke kaki Gunung Lewotobi untuk berlibur. Kedatangan sementara pastor Katolik yang akrab disapa Padre Marco ini menghadirkan haru bagi warga Desa Persiapan Lewouran, Flores Timur, yang menyambut putra terbaik mereka dengan pelukan tradisi, bukan kemewahan.
Tak ada kemewahan. Ratusan warga, tokoh adat, dan umat Katolik menyambut putra terbaik mereka dengan kehangatan tradisi lokal. Tarian adat mengiringi langkah Padre Marco di gerbang desa. Tetua adat kemudian mengalungkan kain tenun khas Lewouran ke pundaknya sebagai simbol penerimaan.
Siapakah Padre Marco? Dia adalah pastpr asal Indonesia pertama yang dipercaya bertugas di Kuria Takhta Suci Vatikan sejak 2015. Di sana, ia menangani dialog Islam untuk kawasan Asia dan Pasifik, serta menjabat Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate.
Namanya semakin dikenal luas publik saat menjadi penerjemah resmi Paus Fransiskus dalam kunjungan apostolik ke Indonesia pada September 2024 lalu.

Warga yang menyambutnya di kampung halaman, menyerahkan sirih, pinang, kapur, minuman adat, dan rokok daun nipah. Bagi warga Lewouran, liburan Padre Marco ini menjadi kebanggaan besar karena seorang anak desa dari kaki Gunung Lewotobi bisa dipercaya mengabdi di pusat Vatikan.
“Padre Marco adalah putra Lewouran yang mengharumkan nama daerah. Beliau menjadi kebanggaan kami,” ujar Penjabat Kades Persiapan Lewouran, Sterly Watokola.
Padre Marco mengatakan, selalu merindukan tanah kelahirannya. Ia menyempatkan diri pulang ke Flores Timur setelah menghadiri Kongres XI WUJA 2026 di Yogyakarta yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026.

“Setiap hari saya ingin berada di kampung ini. Saya ingin memberikan dukungan dan semangat kepada masyarakat,” ungkap Padre Marco.
Selama masa liburannya di Flores Timur, ia akan memimpin misa syukur, bertemu keluarga, dan mengunjungi sekolah pendampingannya. Menariknya, ia juga membawa dua relikui Santo Petrus dari Vatikan untuk diserahkan kepada Gereja Stasi Santo Petrus Lewouran. Kehadiran relikui ini menjadi simbol eratnya ikatan Gereja lokal dan universal.
Meski memiliki karier internasional di panggung dunia, bagi warga Lewouran, Padre Marco tetaplah sosok anak kampung yang sederhana. Kehadirannya di tengah masa libur ini berhasil menguatkan iman umat dan memberi inspirasi agar generasi muda berani bermimpi tinggi. (ril/hep)













Leave a Reply