PONTIANAK, RUAI.TV – Sastra lisan Manyombang terus hidup sebagai jantung tradisi masyarakat adat sub suku Dayak Taman di Kalimantan Barat. Di tengah arus modernisasi, tetua masyarakat Dayak Taman di Pontianak dan sekitarnya, Eugene Yohanes Palaunsoeka, mengajak generasi muda untuk mempelajari dan menjaga Manyombang sebagai warisan budaya yang sarat nilai spiritual, identitas, dan kebersamaan.
Eugene menilai Manyombang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan medium pewarisan nilai hidup masyarakat Dayak Taman yang telah berlangsung turun-temurun. Ia menyebut, jika generasi muda tidak memahami dan mempraktikkannya, tradisi tersebut berisiko tergerus zaman.
“Manyombang adalah jati diri kami. Di dalamnya ada doa, pujian, nasihat, dan harapan hidup yang diwariskan leluhur kepada anak cucu,” kata Eugene saat ditemui di Pontianak, Minggu (18/1/2026).
Dalam tradisi Dayak Taman, Manyombang tampil sebagai sastra lisan utama dalam ritus pernikahan adat. Tradisi ini memuat rangkaian doa dan pujian yang mengandung makna spiritual dan sosial yang mendalam. Masyarakat Dayak Taman Kapuas Hulu menjalankan Manyombang dalam dua tahapan penting.
Tahap pertama berlangsung saat perahu hias rombongan pengantin pria tiba. Pada momen ini, pelaku adat melantunkan Manyombang sebagai bentuk penyambutan sakral. Doa dan pujian mengalir untuk memuliakan rombongan yang datang. Perahu hias dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup, kehormatan, dan harapan yang disambut secara adat dan spiritual.
Tahap kedua berlangsung dalam prosesi sijaratan atau menjari tangan, yakni prosesi penyatuan kedua mempelai. Pada tahap ini, pelaku Manyombang memanjatkan doa kepada leluhur agar memberi restu. Doa tersebut memuat harapan agar pasangan pengantin hidup rukun, harmonis, memperoleh keturunan, serta menjalani kehidupan yang damai hingga ke anak cucu.
“Di dalam Manyombang, kami mendoakan agar pengantin kelak menjadi pribadi yang baik, dihormati, didengar, dan berguna bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Eugene.
Selain mengatur kehidupan rumah tangga, Manyombang juga memuat nilai tentang penghidupan, pekerjaan, dan peran sosial. Sastra lisan ini mengajarkan tanggung jawab, etika, serta hubungan manusia dengan sesama dan alam. Karena itu, Manyombang tidak hanya berfungsi sebagai ritual, tetapi juga sebagai pendidikan budaya masyarakat Dayak Taman.
Menurut Eugene, hingga kini Manyombang masih terjaga dan terus di praktikkan, termasuk oleh generasi muda. Hal itu terjadi karena Manyombang menggunakan sastra lama yang di wariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Namun, ia mengakui beberapa bagian sastra adat mulai jarang di kuasai.
“Hingga saat ini, budaya Manyombang masih tetap terjaga dan masih di praktikkan, termasuk oleh generasi muda. Namun ada beberapa bagian timang, terutama Timang Malimongon, yang cukup sulit karena memerlukan tingkatan dan pemahaman bahasa adat yang mendalam,” jelasnya.
Ia menilai kesulitan bahasa dan rumitnya tahapan adat menjadi tantangan utama pelestarian Manyombang. Karena itu, Eugene mendorong generasi muda untuk aktif mendengarkan, mencermati, dan mempelajari sastra lisan tersebut sejak dini.
“Pesan saya kepada generasi muda, hal-hal seperti ini hendaknya di jadikan pelajaran, di dengarkan dengan baik, dan dicermati. Dengan demikian, tradisi ini tidak punah dan tetap dapat di wariskan,” tegas Eugene.
Ia juga mendorong para pendidik agar memasukkan Manyombang sebagai muatan lokal di sekolah, khususnya di wilayah Dayak Taman. Langkah itu dinilai penting agar sastra lisan tidak hanya hidup di ruang adat, tetapi juga di ruang pendidikan.
“Bagi para guru, jika memungkinkan, tradisi Manyombang dapat di jadikan muatan lokal dalam dunia pendidikan,” tambahnya.
Eugene berharap Sastra Lisan Manyombang terus menjadi media pewarisan nilai budaya, identitas, dan spiritualitas masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, khususnya Dayak Taman Kapuas Hulu, sehingga tradisi leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.















Leave a Reply