Demi Sekolah, Anak-Anak di Bengkayang Lewati Jembatan Rusak

BENGKAYANG – Pasca putusnya jembatan gantung di Desa Tapen, Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang yang menyebabkan tewasnya seorang pasien yang ditandu oleh warga melewai jembatan itu saat menuju rumah sakit, hingga kini belum ada upaya perbaikan oleh pihak terkait.

Jembatan itu merupakan satu-satunya akses bagi warga untuk beraktivitas, termasuk digunakan untuk anak-anak pergi dan pulang sekolah. Melalui postingan di akun Facebook, salah satu warga memperlihatkan situasi saat para pelajar melintasi jembatan itu. Dengan kondisi jembatan yang miring sangat berpotensi menimbulkan korban, terlebih pelajar yang melewati jembatan merupakan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD). Berikut postingan akun facebook milik Fransz (Fransiskus).

MERAJUT ASA DI TENGAH PENDIDIKAN INDONESIA DAN DUNIA KESEHATAN

Beberapa Minggu yang lalu sempat viral di berbagai media cetak dan elektronik tentang bagaimana pejuang kemanusiaan untuk bisa sampai ditempat yang bernama Rumah sakit serta membawa orang yang sedang sakit itu.

Demi mendapat kesembuhan namun naasnya ditengah jembatan itu secara tiba-tiba patah. Dan yang ditandu jatuh di air yang deras. Kronologi silahkan cari di media yang sudah ada.

Karna sudah berlalu jadi saya tidak bisa masuk terlalu jauh kearah situ. Lagi pula orangnya sudah tenang di Alamnya sendiri. RIP untuk Bu Elisa. Damai bersama Allah Bapa.

Keadilan bagi seluruh Rakyat Indonesia hanya dirasakan oleh orang-orang yang punya Pemangku kepentingan dan uangnya banyak. Kira-kira begitulah tanggapan kami di daerah pedalaman Kalimantan tentang kalian semua yang punya kuasa atas negeri ini.

Tepatnya Senin (13-07-2020) kemarin anak-anak di pedalaman Kalimantan masuk kesekolah. Kembali ke aktivitas nya masing-masing, baik untuk urusan daftar ulang atau kegiatan lain yang mewajibkan mereka kembali ke sekolah.

Belum habis cerita tentang Jembatan tersebut sekarang mereka merasakan itu. Jembatan yang putus akibat pondasi dan kawat yang sudah Rapuk di makan usia dan dibawah air yang deras karna sungai besar mereka berpegang dengan sekuat tenaga untuk bisa lolos di di seberang.

Nak, ketahui lah kelak ceritakan kepada mereka betapa kita ini kuat, tegar, kokoh berdiri diatas semua penderitaan ini. Kaki kita melangkah demi satu tujuan, demi sebuah harkat martabat keluarga kita. Terus kepakkan sayap Garuda kalian di wilayah Pedalaman Kalimantan ini. Kita semua kuat dan kokoh. Kita semua mampu.(Tim/Red).