Warga Pagar Akses Masuk Lahan PT.LBP

oleh -30 views

SEKADAU – Manis diawal, pahit diujung. Ya, begitulah pribahasa yang tepat untuk perusahaan perkebunan karet yang memiliki HGU di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Perusahaan bernama PT. LBP (Landak Bhakti Parma) yang berdiri sekitar tahun 2015-2016 lalu itu, dinilai ingkar janji dengan masyarakat khususnya pemilik lahan yang berada di area HGU (hak guna usaha) di wilayah Desa Teluk Kebau dan Desa Lembah Beringin.

Menurut salah satu pemilik lahan, Abang Suhaini, pada sosialisasi awal perusahaan itu masuk ke Nanga Mahap tahun 2016 yang dilakukan di Balai Batomu Nanga Mahap, pihak perusahaan berjanji akan mengakomodir dan memperioritaskan tenaga kerja lokal khususnya bagi warga yang menyerahkan lahan ke perusahaan.

Namun janji manis tersebut hanya untuk menarik simpati agar warga menyerahkan lahan ke pihak perusahaan. Sementara tenaga kerja lokal yang dijanjikan itu hanya sekedar janji alias janji palsu.

“Pada intinya perusahaan PT. LBP akan banyak menyerapkan tenaga kerja, terutama bagi masyarakat yang menyerakan lahan, sayangnya janji mereka tidak dituangkan hitam diatas putih, setelah kita serahkan lahan ternyata mereka tidak menepati janjinya,” kata salah satu pemilik lahan, Abang Suhaini, Jumat (29/11) pagi.

Abang Suhaini juga menjelaskan, bahwa lahan pribadi yang ia serahkan seluas 6,2 hektare. Pihak perusahaan pernah mengakomodir keluarganya untuk bekerja, itupun hanya selama enam bulan.

“6,2 Hektare, om ada masukan menantu kerja kurang lebih 6 bulan keluar, kerna dapat kerja di kampungnya,” ujar Abang Suhaini.

Atas tindakan perusahaan yang dinilai tidak adil itu, pemilik lahan melakukan pemagaran di ruas jalan masuk ke lokasi perusahaan. Setelah melakukan pemagaran pihak perusahaan berusaha melakukan mediasi penyelesaian bersama warga tersebut dengan melakukan pertemuan pada Jumat (29/11) di kantor PT.LBP, namun karena terlanjur kecewa, Abang Suhaini memilih tidak mau hadir.

Sementara itu, Asisten Junior Humas PT. LBP, Heronimus Hengky, saat di konfirmasi melalui pesan WhatsApp tidak memberikan tangapan. Pesan yang disampaikan hanya dibaca, tidak dibalas, nomor Handphonenya juga tidak bisa dihubungi.

Menanggapi persoalan yang terjadi di daerah asalnya, Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Aron, meminta pihak PT. LBP agar komitmen dengan janji awalnya.

“Perusahaan di izinkan masuk supaya bisa ada lapangan pekerjaan buat masyarakat setempat, untuk mensejahterakan masyarakat,” kata Aron.

Aron juga meminta agar pihak PT. LBP supaya mengutamakan menerima karyawan atau pekerja dari daerah setempat. “Jangan sudah dapat lahan, lalu setelah beberapa bulan/tahun pekerja asal daerah setempat dibuang,” tegasnya. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.