Harga Tengkawang Murah, Warga Ketapang Ngadu ke Presiden

KETAPANG – Warga desa Balai Pinang, kabupaten Ketapang mengeluhkan harga buah tengkawang yang menjadi kayu khas Kalimantan sebagai andalan penopang ekonomi masyarakat puluhan tahun lalu ini, saat ini harganya sangat rendah. Harga yang hanya Rp 500/Kg ini menurut warga tidak sebanding dengan harga sembako yang ada di tengah masyarakat.

Karena rendahnya nilai jual harga buah tengkawang ini, warga mengadu ke presiden RI, Joko Widodo melalui akun Facebook milik Yogi Onya Banjur J’ne, yang ditulis pada Minggu, 17 Februari 2019. Berikut isi surat terbuka warga untuk Presiden Joko Widodo.

Yth. Presiden RI Jokowi Dodo

Selamat pagi, selamat hari Minggu, semoga senantiasa diberkati oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Siang Jumat 15 Februari 2019 di Desa balai Pinang (Tahak) dalam acara lokakarya Desa Fokus (Program Pemerintah Daerah Kab. Ketapang) yang lalu saya sempat berdialog dengan bapak Lorin sebagai pembeli buah tengkawang dari masyarakat dengan harga Rp 500/Kg dan pak Siska sebagai penjual.

Mereka bercerita bahwa potensi dari buah tengkawang saat ini sangat banyak, hanya saja harga yang sangat murah sehingga mempengaruhi daya jual dari masyarakat menurun terutama dari segi pemungutan buah dari hutan yg kemudian dijual ke pembeli.

Sementara itu, potensi dari tengkawang tidak hanya ada pada buahnya saja, melainkan pada batangnya yang skala produksinya walaupun saat ini tidak begitu besar tetapi berdampak kepada punahnya pohon tengakwang untuk tiap tahunnya ditebang sebagai bahan bangunan rumah walet dan lain sebagainya. Sehingga 10 tahun yang akan datang bisa saja terjadi kelangkaan pada pohon tengkawang ini.

Oleh sebab itu, perlu adanya perhatian kusus dari pemerintah pusat terkait hal ini karena dapat mengancam kelangkaan pada tengkawang yang ada di daerah Kabupaten Ketapang bagian utara ini.

Saya berharap dengan adanya SDA berupa HHBK ini tetap terus terjaga perlu ada upaya peningkatan harga pada buah tengkawang tersebut agar masyarakat dapat merubah pola pikir yang semula menebang menjadi memelihara.

Seperti yang saya lihat pada pohon jengkol yang dulu di tebang karena dianggap mengganggu sekarang dibudaya karena buahnya berharga.

Salam

Yulius Yogi.

Tidak lama di posting, postingan pemilik Facebook tersebut mendapat beragam komentar dari Netizen. (Red).