MENGAPA MUNCUL CITIZEN JOURNALIST & RUAI-CJTC?

oleh -38 views

Beberapa tahun terakhir ini muncul istilah citizen journalism, atau jurnalisme warga terjemahan harafiah dalam bahasa Indonesia. Kemunculan citizen journalism karena kemajuan teknologi komunikasi terutama teknologi Internet dan digitalmedia. Digitalmedia memungkinkan semua individu bisa mempublikasikan informasi secara luas.

Hingga muncul dukungan ekstrem yang mengatakan “digitalmedia membuat semua individu bisa menjadi jurnalis,” “satu waktu nanti, citizen journalis akan menggantikan profesional jurnalis.”

Beberapa jurnalis profesional menilai pendapat itu terlalu berlebihan. Frederic Filloux, penulis lepas dan konsultan media yang tinggal di Paris, adalah salah satunya. Ia menganalogikan citizen journalist dengan citizen neurosurgeon (ahli bedah) yang tidak mungkin dipercaya membedah.[1]

Ada banyak istilah lain yang memadankan citizen journalism, antara lain grassroots journalism[2] atau grassroots reporting, independent journalism, dan lainnya. Semua orang bisa memiliki istilah masing-masing. Demikian juga setiap orang bisa mendefinisikan citizen journalism sesuai dengan pemahaman mereka.

Pemahaman umum, citizen journalism adalah warga biasa-biasa (yang bukan jurnalis) yang menjalankan kegiatan jurnalism: menyampaikan dan mempublikasikan berita. Citizen journalist mempublikasikan berita sendiri dalam format multimedia (tulis, audio, dan video) di jagad Internet atau di media umum (mainstream media).

Saat ini mainstream media tidak lagi memonopoli informasi atau berita yang mereka produksi. Warga biasa-biasa saja juga bisa mempublikasikan informasi atau media berdasarkan kepentingan mereka, bukan kepentingan media.

Ketika terjadi bencana, kebanyakan media umum melaporan dari pinggiran atau bahkan dari jauh atau mengutip pejabat resmi yang seringkali informasinya bias. Tetapai, ketika itulah citizen journalist melaporkan dari tempat kejadian dan berdasarkan sudut pandang mereka.

Kritik utama citizen journalism adalah seberapa besar informasi atau berita dari warga biasa-biasa saja bisa dipercaya ketika diproduksi tanpa memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar jurnalisme?

Karena itu, supaya citizen journalist mampu menghasilkan informasi atau berita yang mengikuti kaidah praktik jurnalisme, mereka harus mengikuti satu proses pelatihan jurnalisme dasar.

Hal tersebut melatarbelakangi pembentukan Yayasan Ruai-Citizen Journalist Training Center (Pusat pelatihan jurnalisme/wartawan warga) Ruai-CJTC . Ruai-CJTC didirikan di pontianak oleh Harry Surjadi-Knight International Journalism Fellow dari International Center For Journalist bersama Ruai Televisi Pontianak awal februari tahun 2011. Akta Notaris Yayasan masih dalam proses di pejabat Notaris Pontianak.

Ruai-CJTC sudah menyiapkan sumber daya manusia wartawan profesional diantaranya Harry Surjadi sebagai Trainer utama dan beberapa Wartawan Ruai Televisi Pontianak yang sudah dilatih untuk melatih.

Citizen Journalist.

Ruai-CJTC mendefinisikan; cirizen journalist adalah warga yang memiliki keterampilan jurnalistik dan berkomitmen untuk memberdayakan Masyarakat Adat (MA) di Kalbar melalui laporan atau informasi mengenai MA. CJs adalah orang yang telah mengikuti pelatihan dasar-dasar jurnalistik selama minimal 2 hari yang diselenggarakan Ruai-CJTC.

Siapa mereka?

1.       Masyarakat Adat

2.       Aktivis

3.       Non Government Organization (NGO)

4.       Pelaku Credit Union (CU)

Outlets;

1.       Cetak; SMS, website Ruaitv, Mobile phon-Kalimantan Review

2.       Radio: Mobile phon, voice-KBR68H, dan Radio RAMA

3.       TV: Ruai Televisi Pontianak, Tempo Televisi

Sistem?

a.       Internet

b.      Frontlinesms.com; sms news, voice news

Pengetahuan & Skills?

Dasar jurnalistik 100%, Radio 25%, Televisi 25%, Cetak 50%

Peserta Training citizen journalist?

Peserta tidak dibayar melainkan motivasi mereka sendiri untuk menyuarakan persoalan yang mereka hadapi.

Persayaratan CJs jadi peserta?

Pandai membaca, menulis, punya kamera (minimal kamera handphone)

Kebutuhan informasi?

Tim Ruai-CJTC harus mengetahui informasi dan persoalan yang dibutuhkan CJs misalnya Cuaca, harga karet, perkembangan perijinan perkebunan, kerusakan lingkungan, iklim global (banjir, kekeringan, bencana) yang bersumber dari berbagai pihak.

Materi pelatihan CJs?

Materi pelatihan sesuai modul yang disusun tim dari Ruai-CJTC.

Tim Ruai-CJTC sudah menyelenggara training sejak bulan juni 2011 lalu. Pelaksanaan training masing-masing di Kota Pontianak 3 kali, di Kabupaten Kubu Raya 2 kali (Desa Korek dan Desa Sui. Enau), Kabupaten Kapuas Hulu 3 kali (Kec. Lanjak di Lanjak, Kec. Embaloh Hulu Desa Sui. Utik, dan Kec. Silat Hilir di Desa Nanga Nuar) dan Kabupaten Sanggau di Dusun Sanjan. Setiap kali training diikuti berkisar 15-20 orang. Dari sembilan kali training yang dilaksanakan dari bulan juni sampai dengan agustus lalu sudah menjaring 130 CJs. Dari jumlah peserta keseluruhan 30 persen diantaranya masuk kategori aktif mengirimkan informasi via sms ke nomor layanan CJs;

Cita-cita besar dari kegiatan yang kami selenggarakan dapat membantu warga yang terisolasi dari akses informasi mengenai hak dan kewajiban mereka, baik ketidaktahuan secara teknis mencari informasi dan mengerti informasi itu sendiri sehingga daya kritis positif Masyarakat terbangun untuk sebuah perubahan masa depan mereka lebih baik.


[2] We The Media: Grassroots Journalism by the People, for the People oleh Dan Gilmor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.